«

May 08

PENELUSURAN INFORMASI DI PERPUSTAKAAN

PENELUSURAN INFORMASI

DI PERPUSTAKAAN

Oleh :

I Wayan Wijanaraga, AP.

(Pustakawan IPDN Kampus NTB)

  1. A.    Pengertian

Perpustakaan berkembang pesat dari waktu ke waktu menyesuaikan dengan perkembangan pola kehidupan masyarakat, kebutuhan, pengetahuan dan teknologi informasi. Perkembangan tersebut juga membawa dampak kepada pengelompokan perpustakaan berdasarkan pola-pola kehidupan dimaksud. Dilihat dari perkembangan teknologi informasinya, bahwa perpustakaan berkembang dari perpustakaan tradisional, semi-tradisional, elektronik, digital sampai dengan perpustakaan virtual. Sedangkan dilihat dari segi pola kehidupan masyarakat, berkembang mulai dari perpustakaan desa, perpustakaan mesjid, perpustakaan pribadi, perpustakaan keliling dan lain sebagainya. Dan dari segi perkembangan kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan diera global sekarang ini munculah istilah perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan khusus, dan lain-lain. Yang pada intinya bagaimana kemudahan mendapatkan informasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pemakai. Maka pemberian informasi dari perpustakaan dalam bentuk penelusuran sumber-sumber informasi sangat diperlukan oleh kalangan pemakai dari semua tingkatan sosialnya.

Dengan demikian, mengawali penulisan tentang penelusuran informasi khususnya di perpustakaan, perlu kiranya penulis sampaikan terlebih dahulu pengertian dari judul makalah ini sebagai berikut  :

Informasi menurut Pawit M. Yusup dan Priyo Subekti (2010, 3), bahwa informasi adalah segala sesuatu tentang alam yang maha luas ini, termasuk segala peristiwa yang terjadi di dalamnya. Sudah tentu dengan demikian luasnya informasi yang ada harus dipilah sesuai dengan kebutuhan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi pada bidang kepustakawanan.

Sedangkan penelusuran informasi menurut Sulistyo Basuki (1992), bahwa dalam menelusur informasi dengan menggunakan kata kunci yang merupakan istilah penting untuk digunakan sebagai titik akses dalam penelusuran informasi.

Pendapat lainnya dari Perpustakaan Nasional (2010) menyebutkan bahwa penelusuran informasi adalah kegiatan temu balik informasi yang di design untuk memudahkan dalam menemukan sumber informasi.

Sedangkan menurut Adisantoso (1996) menyatakan bahwa penelusuran informasi adalah penelusuran literartur yang sebagian besar merupakan informasi berbasis teks dengan memanfaatkan data dasar sederhana.

Sementara Soejono Trimo dalam Pedoman Pelaksanaan Perpustakaan, 1985, berpendapat bahwa Pelayanan rujukan merupakan pemebrian bantuan oleh perpustakaan melalui pustakawan kepada masyarakat yang dilayani termasuk yang sedang mencari atau yang membutuhkan informasi serta keterangan-keterangan tertentu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2006, 1236), terkutip bahwa penelusuran merupakan cara atau proses penelaahan untuk mendapatkan sesuatu.

Dari berbagai pendapat yang terpaparkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penelusuran informasi merupakan suatu kegiatan mencari atau menemukan kembali informasi, baik yang berupa kepustakaan maupun informasi terbaru non-kepustakaan dalam bidang ilmu pengetahuan tertentu yang dilakukan di perpustakaan maupun diluar perpustakaan dengan menggunakan literature sekunder atau sarana penelusuran secara elektronik.

Atau kesimpulan lainnya, bahwa penelusuran informasi merupakan kegiatan mencari atau menemukan kembali informasi atau sumber informasi yang pernah ditulis oleh orang mengenai suatu topic atau subyek tertentu.

Mencermati perkembangan pengertian perpustakaan dari waktu ke waktu pun sangat pesat, yang awalnya didefiniskan sebagai suatu gedung, ruangan atau sejumlah ruangan yang berisi koleksi buku yang dipelihara dengan baik, dapat digunakan oleh masyarakat atau golongan masyarakat tertentu (abad ke-19). Menurut ALA (The American Library Association) menyatakan bahwa perpustakaan sebagai pusat media, pusat belajar, pusat sumber pendidikan, pusat informasi, pusat dokumentasi dan pusat rujukan. Sedangkan perkembangan selanjutnya di Indonesia sesuai dengan Keputusan Presiden RI Nomor 11 Tahun 2004, menyatakan bahwa perpustakaan merupakan salah satu sarana pelestarian bahan pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional.

Penyempurnaan pengertian perpustakaan sebagaimana yang tertuang pada Undang undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, disebutkan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara professional dengan system yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka.

Rangkuman pengertian tentang judul makalah ini yaitu Penelusuran Informasi di Perpustakaan adalah rangkaian upaya temu kembali sumber informasi yang pernah ditulis, dicetak, dan/atau direkam maupun dipublikasikan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi melalui perpustakaan.

Dari uraian diatas, maka penulis membatasi pembahasan makalah ini pada penelusuran informasi hanya di perpustakaan.

 

 

 

  1. B.     Type Penelusuran Informasi

Penelusuran dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

  1. secara manual dan
  2. elektronik (online).

Ad 1. Penelusuran informasi secara manual

Dalam melakukan penelusuran informasi yang harus diperhatikan adalah langkah-langkah yang harus ditempuh antara lain :

  1. Menerima pertanyaan, pertanyaan dapat dilakukan dengan cara mengisi formulir atau dengan cara bertanya langsung. Sehingga dari pertanyaan tersebut dapat diketahui tujuan, ruang lingkup waktu yang diperlukan, jumlah dan tingkatan literature yang dibutuhkan yang akan menentukan sumber dan system penelusuran yang akan digunakan
  2. Menganalisa pertanyaan, apabila dilakukan secara langsung dapat dilakukan dengan cara mengadakan wawancara, sehingga memperjelas maksud dari pertanyaan pemustaka atau pencari informasi. Tujuan dilakukannya analisis pertanyaan adalah : 1). Untuk memastikan informasi apa sebetulnya yang dibutuhkan oleh penanya, 2). Untuk mengklarifikasi pertanyaan untuk diterjemahkan kedalam bahasa penelusuran, dan 3). Untuk menentukan jumlah, jenis dan tingkat kesulitan sumber yang akan dipakai untuk menjawab pertanyaan.
  3. Melaksanakan penelusuran, apabila pertanyaan sudah jelas maka akan lebih mudah menentukan strategi penelusuran informasinya. Adapun strategi penelusuran yang dapay dilakukan sebagai berikut : 1). Mengetahui batasan subyek yang diinginkan, yang akan menentukan batas waktu penelusuran, bahasa, geografi dan jenis dokumen yang diperlukan, 2). Menentukan kata-kata kunci yang akan dipakai dalam penelusuran dengan menggunakan kamus istilah, tajuk subjek atau thesaurus, dan 3) memiliki sumber informasi yang sesuai dengan menelusur melalui pendekatan subjek atau pengarang.

Selanjutnya jawaban pertanyaan atau permintaan informasi perlu dicatat untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan sejenis yang asing diajukan oleh penanya. Pertanyaan yang tidak dijawab perlu dievaluasi kesulitannya dan dicarikan pemecahannya.

Kemudian menyajikan hasil penelusuran kepada pemakai dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : a) disusun menurut abjad, b) disusun secara kronologis berdasarkan sumbernya, dan c) disusun berdasarkan penggolongan subjek pokok persoalan, dan d) respon dari pencari atau pemustaka atau pemakai informasi terhadap temuan informasi yang disajikan oleh pustakawan, apakah mempunyai keakuratan yang tinggi ? ataukah sudah mampu memberikan kepuasan yang tepat kepada pemakai.

Ad. 2. Penelusuran informasi secara elektronik / online, yaitu pustakawan berkomunikasi secara langsung dengan computer sebagaimana berbicara dengan seseorang melalui telpon. Beberapa hal yang perlu dikerjakan dalam penelusuran online adalah :

  1. Melakukan berbagai usaha untuk membuat penelusuran menjadi lebih mudah. Hal ini perlu dibicarakan bersama antara penerbit dan semua pihak yang terkait dengan database online. Melalui proses penelusuran seorang penelusur pemula secara bertahap menjadi mengerti bagaimana cara menelusur sebelum dihubungkan dengan system online yang lebih kompleks dan mahal.
  2. Penelusuran mendalam mahal. Kalau melakukan penelusuran kepusat atau sumber informasinya yang asli, akan menjadi mahal dari segi waktu, tenaga dan biaya yang dibutuhkan oleh pemakai. Maka dengan pertimbangan tersebut, solusinya adalah pencarian informasi rujukan terpasang jauh lebih murah dan cepat.

Database, yaitu koleksi bahan tercetak atau bahan pustaka bentuk lainnya atau sejumlah record yang telah dikonversi dan disimpan dalam computer. Informasi dalam database digolongkan kedalam dua kategori, yaitu : 1) reference, termasuk indeks dan bibliografi, dan 2) resources, termasuk database full text ( numeric dan kobinasi numeric dengan full text).

Online charges, yaitu perpustakaan tidak membeli suatu database tapi mengaksesnya melalui suatu vendor atau penerbit. Perpustakaan membayar kepada vendor untuk setiap menit akses kedalam database mereka. Macam-macam vendor adalah :

  1. Layanan komersiil, menawarkan akses kesejumlah database;
  2. Badan pemerintah;
  3. Penerbit komersiil atau layanan yang tidfak menggunakan vendor tapi menjual penggunaan database secara langsung kepada pemakai.

Penelusuran online memiliki beberapa type antara lain : a) jasa penelusuran eksternal, b) CD-ROM, c) system penelusuran dengan database lokal (OPAC), d) videoteks/teleteks dan e) internet.

Perkembangan jaman dalam bingkai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mengantarkan peradaban modern dalam dunia global hampir tanpa batas-batas informasi melalui penelusuran online dengan internet. Dengan tidak mengesampingkan type penelusuran online yang lainnya juga masih tetap relevan untuk ditelusur sesuai dengan kekhususan kebutuhan pemakainya.

Era sekarang sangat familiar dengan internet sebagai sebuah kebutuhan pelengkap kehidupan interaksi manusia dengan manusia, komunitas dengan komunitas, baik formal, informal maupun non formal. Internet adalah jaringan public, dalam hal setiap orang yang terhubung melakukan administrasinya sendiri-sendiri. Berbagai informasi tersedia di internet. Semua kalangan profesi dapat memanfaatkannya sebagai sumber informasi maupun untuk melakukan pekerjaan atau bisnis atau hanya sekedar untuk berkomunikasi. Dengan banyaknya informasi yang terdapat pada jaringan internet, bukan hanya berfungsi sebagai sarana pertukaran pesan antar pemakai, namun internet juga menjadi sumber informasi berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Berbagai bentuk mesin pencari informasi di internet yang dapat membantu pengguna atau pemakai mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, antara lain : http://www.google.com, http://www.yahoo.com, http://www.yandex.com, http://www.ask.com, http://www.bing.com, http://www.dogfile.com, http://www.lycos.com, http://www.hotbot.com, http://www.blekko.com, http://www.linkstar.com, http://www.altavista.com, http://www.excite.com, http://www.mekinley.com, http://www.infoseek.com, http://www.yandex.com, http://www.duckduckgo.com, http://www.ask.com, dan lain-lain.

Sebagaimana sumber tercetak, demikian juga sumber-sumber informasi di internet perlu dilakukan penilaian. Menurut perpustakaan McInntyre ada 10 kriteria dalam menilai sumber informasi dari internet, yaitu : content, credibility, critical thinking, copyright, citation, continuity, cencorship, connectivity, comparability, dan context.

  1. Content (isi), berbagai pertanyaan untuk melihat isi antara lain : apa maksud isinya? Apakah judul dan pengarang dikenal? Apa isinya popular atau ilmiah? Bersifat sindiran atau serius? Apa merupakan edisi terbaru? Dan sebagainya, sehingga kita yakin bahwa content yang dibutuhkan benar-benar valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
  2. Credibility (terpercaya), sangat penting untuk mempertanyakan : apa isinya dapat diandalkan dan terpercaya? Apakah merupakan sumber yang berwenang? Apakah tujuan informasinya serius, humoris, atau sindiran? Apakah kelanjutan URL-nya .edu, .com, .gov, .org atau yang lainnya? Apakah itu menunjukan penerbitnya?
  3. Critical thinking (berpikir kritis), diperlukan kemmpuan sejauhmana pemakai atau pengguna mampu menerapkan keahlian berpikir kritis berdasarkan pengetahuan yang dimilki dan pengalaman untuk mengevaluasi sumber-sumber informasi di internet? Dapatkan kita mengenali pengarang, penerbit, edisi, dan sebagainya. Sifatnya sangat personal dari pemakai atau pengguna untuk lebih banyak mengkritisi sumber informasi yang disediakan oleh internet.
  4. Copyright (hak cipta), sekalipun catatan hak cipta tidak Nampak jelas, seseorang telah menulis atau bertanggungjawab atas suatu tulisan, penciptaan suatu dokumen, gambar, suara, atau citra/image dan bahan-bahan turunannya harus mematuhi konvensi hak cipta. Pemanfaatan yang jujur diterapkan dengan menyebut kutipan, misalnya untuk memberikan komentar atau penelitian. Materi-materi merupakan milik umum jika hal tersebut dinyatakan dengan jelas. Setiap pengguna atau pemakai internet  atau media cetak haruis menghormati hak cipta.
  5. Citation (kutipan), sumber-sumber internet akan dikutip untuk mengenali sumber-sumber yang digunakan, baik untuk member kredit kepada pengarang, dan materi bahan bacaan bagi pembacabila ingin melakukan penelitian lebih lanjut. Ada petunjuk gaya standar yang emmuat beberapa contoh bagaimana mengutip dokumen-dokumen internet, meskipun standar tersebut belum ditetapkan dengan resmi.
  6. Continuity (keberlanjutan), apakah situs internet selalu dipelihara dan diperbaharui? Apakah situs itu sekarang atau saat ini gratis atau berbayar dan apakah itu dapat berlanjut dengan gratis? Dapatkah kita mengandalkan atau mempercayai sumber tersebut setiap waktu untuk menyediakan informasi yang objektif? Beberapa situs : .edu, diubah menjadi . com yang kemungkinan mempenagruhi biaya. Situs-situs lain menawarkan penggunaan gratis dan biaya-biaya beban.
  7. Censorship (penyensoran), apakah daftar bacaan kita sudah layak? Apa artinya? Apakah mesin pencari atau indeks mencari semua kata atau ada kata-kata tertentu yang tidak akan pernah dimunculkan hasil pencariannya? Ataukah beberapa kata tidak termasuk? Apakah hal ini suatu penyensoran? Apa institusi kita didasarkan kepada misinya? Atau misi induk organisasi atau ada sejumlah batasan tertentu? Apa institusi kita menerapkan beberapa halangan dalam penggunaan internet? Pertimbangkan adanya penyemsoran dan hal-hal yang berkaitan dengan privasi ketika menggunakan computer.
  8. Connectivity (keterhubungan), bagaimana kecepatan akses? Kalau kita perlu bekerja pada jam lembur atau diluar jam kerja resmi, apakah bias diakses? Bagaimana akses saat jam-jam sibuk? Berapa terminal computer yang tersedia? Adakah kelambatan akses apabila semua terminal computer dipakai dan apakah cukup mengganggu? Pencetakan dokumen biasanya pada terminal computer yang sama.
  9. Comparability (dapat diperbandingkan), apakah sumber-sumber internet mempunyai bentuk tercetak? Atau CD-ROM atau format bentuk lain? Apakah situs internet berisi informasi yang dapat dibandingkan dan lengkap? Dapatkah kita mengenali sumber-sumber untuk dapat diperbandingkan dengan data-data terdahulu ataupun dikemudian hari ?
  10. Context (ruang lingkup), dapatkahkita menemukan segala sesuatu dalam topic tertentu, sperti komentar, pendapat, uraian, statistic, kemudian pertanyaan kita akan terpuaskan ? apakah kita mencari informasi terbaru ataukah sejarah? Bagaimana informasi dari internet cocok dengan keseluruhan konteks informasi sukjek yang didinginkan?

 

 

 

  1. C.    Pengorganisasian Informasi

Informasi yang demikian banyaknya dan tersebar di alam semesta dan hanya sebagian kecil saja yang terekam. Informasi terekam banyak tersimpan dalam media informasi seperti buku, majalah, surat kabar, baik yang tercetak maupun dalam bentuk rekaman yang jumlahnya sangat banyak, karena setiap saat terus mengalami perkembangan dari segi kuantitas maupn kualitasnya. Maka untuk dapat memanfaatkan rekaman informasi dengan baik pada kehidupan manusia perlu diorganisasikan.

Media penyimpan informasi mengalami kemajuan yang sangat pesat sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mengalami pertambahan yang sangat besar seperti buku, jurnal, majalah, surat kabar, brosur, pamphlet, dan sumber-sumber informasi lainnya dalam media penyimpanan secara elektronik, selalu terbit setiap saat dalam jumlah yang semakin berlimpah. Hal ini dipengaruhi oleh kemajuan dibidang pencetakan, penerbitan dan teknologi perekaman digital/elektronik.

Karena kebutuhan informasi setiap saat berubah dan berbeda sesuai dengan keragaman sumber informasi, maka diperlukan pengorganisaatau pengelolaan sumber-sumber informasi guna disebarluaskan kepada orang banyak yang membutuhkannya. Untuk mempertemukan berbagai macam sumber informasi dengan berragam bentuk kebutuhan manusia, dibutuhkan tenaga pengelola sumber informasi yang dikenal dengan pustakawan. Dan dalam menjalankan tugasnya diperlukan alat yang bernama organisasi informasi yang bertujuan untuk kemanfaatan informasi bagi masyarakat luas.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengorganisasian informasi dan sumber-sumber informasi di perpustakaan antara lain menggunakan : klasifikasi, katalogisasi, bibliografi, indeks dan abstrak, serta system pengelolan informasi elektronik atau komputerisasi, termasuk dalam web internet.

  1. Klasifikasi informasi, berarti penggolongan atau pengelompokan, maksudnya penggolongan suatu benda atau objek dengan ketentuabn bahwa objek yang mempunyai ciri dan sifat yang sama akan berdekatan letaknya, sedangkan benda atau objek yang mempunyai ciri dan sifat yang berbeda akan ditempatkan secara berjauhan.

Tujuannya untuk memudahkan pencarian dan penyimpanan kembali benda-benda atau objek yang telah dikelompokan. Dalam dunia perpustakaan, pengelompokan sumber informasi baik dalam bentuk media tercetak seperti buku, majalah, surat kabar, jurnal, ataupun media yang dalam bentuk terekam seperti audio, film, CD, disc computer dan media internet. Pengelompokan informasi terekam menggunakan cara tertentu untuk memudahkan pencarian dan penyimpanan kembali informasi dan sumber-sumber informasi apabila diperlukan dimasa yang akan datang.

Penggolongan informasi pada umumnya menggunakan dasar subjek yang dijadikan patokan, dengan alasan karena factor subjek atau isi dari suatu koleksi yang paling mudah dikenali dan dilihat dari sudut perbedaan informasi ilmu pengetahuan secara keseluruhan. Alas an lainnya seperti lebih fleksibel, mudah diingat. System penggolongan yang terkenal adalah DDC ( Dewey Decimal Classification) yang paling banyak digunakan di perpustakaan. Dewey membagi seluruh ilmu pengetahuan manusia kedalam 10 golongan besar atau utama. Masing-masing dari 10 golongan besar ini kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi 10 golongan kedua , sehingga kesmuanya menjadi 100 golongan. Demikian pula yang 100 golongan ini masih dapat dikembangkan menjadi 10 golongan ketiga, sehingga kesemuanya berkembang menjadi 1000 golongan. Demikian seterusnya dari yang 1000 ringkasan atui golongan ketiga ini pun sebenarnya masih bias dikembangkan lebih lanjut secara persepuluhan atau decimal untuk kemudian sulit membagibaginya lagi karena telah terlalu sempit cakupannya. Dalam prakteknya, sebuah titik harus selalu dibubuhkan setelah angka ketiga dari setiap notasi yang dibuat oleh pengklasifikasi. Notasi klasifikasi DDC hingga dengan ringkasan ketiga gunanya untuk bahan penelusuran informasi lanjut dengan menggunakan pendekatan klasifikasi subjek dan peng-indeks-an subjek.

  1. Katalogisasi informasi, adalah daftar buku atau media lain dengan segenap keterangan kelengkapannya ( data bibliografisnya) dari buku atau media yang didaftarkan. Sebagai alat bantu penelusuran informasi bibliografi, catalog secara lengkap memuat seluruh keterangan tentang kondisi buku dan media lain secara fisik, sehingga isi yang dibahas dalam buku atau media lain ini dapat diketahui dengan jelas. Secara umum catalog merupakan daftar susunan alfabetis  tentang suatu barang, item atau bahan lain dengan tambahan informasi singkat dari bahan atau item, termasuk ukuran, warna, atau bahakan harga. Di dunia perpustakaan, catalog adalah daftar sistematis dari sejumlah buku atau bahan lain  yang ada diperpustakaan yang dilengkapi keterangan judul buku, pengarang, edisi, penerbit, tahun terbit, tempat terbit, penampilan fisik, bidang subjek, cirri-ciri khusus, dan tempat buku atau buku ini disimpan.

Bentuk catalog bermacam-macam, misalnya ada yang berbentuk buku, kartu, lembaran lepas, film atau pun dalam computer. Yang sudah sangat dikenal adalah catalog dalam bentuk kartu yang banyak tersedia di perpustakaan-perpustakaan. Gunanya ialah untuk memudahkan pencarian informasi atau sumber-sumber informasi yang ada di perpustakaan. Catalog dalam bentuk kartu mempunyai banyak keuntungan dibandingkan dengan jenis catalog lainnya. Antara lain keuntungan yang paling menonjol adalah enti-nya mudah disisipi dengan entri yang baru, lebih tahan lama karena bahannya dibuat dengan menggunakan kertas manila karton yang relative tebal. Dalam hal fleksibelitas kemudahan untuk menyisipi entri-entri baru ini tentu saja masih kalah dengan model catalog yang menggunakan computer. Model catalog yang menggunakan computer banyak dipergunakan pada perpustakaan-perpustakaan yang sudah maju atau perpustakaan perguruan tinggi yang relative sudah lebih baik, yang dikenal dengan istilah OPAC (Online Public Access Catalogue). Catalog computer dapat diakses secara online atau tersambung dengan computer lain, baik secara terbatas ataupun secara lebih luas.

Fungsi catalog secara umum adalah sebagai berikut : a). menunjukan tempat sebuah buku atau bahanlain yang menggunakan symbol-simbol atau lambing-lambang angka klasifikasi dalam bentuk nomor panggil (call number), b). mendaftar semua buku dan bahan lain dalam susunan alfabetis nama pengarang, judul buku atau subjek buku yang bersangkutan kedalam suatu tempat khusus di perpustakaan guna memudahkan pencarian informasi yang diperlukan, c). memberikan kemudahan untuk mencari sebuah buku atau bahan lain diperpustakaan dengan hanya mengetahui salah satu dari daftar kelengkapan buku yang bersangkutan.

  1. Katalog terkomputerisasi, adalah catalog yang menggunakan program-program computer sebagai alat bantu penelusuran informasi, khususnya buku dan media lainnya yang ada di perpustakaan. Fungsinya sama dengan catalog  manual, namun dilihat dari sisi tertentu memiliki keunggulan dari aspek penggunaan relative lebih praktis. Contoh-contoh program system penelusuran dengan catalog computer  antara lain : a). CDS-ISIS baik versi DOS maupun versi Windows yang disebut dengan WINISIS, b). DATABASE versi DOS mapun versi Windows – nya disebut MsAccess, MsVisual Basic, MsVisual Fox Pro dan Delphi.

Software-sofware yang berbasis DATABASE diatas bersifat integrative dalam penggunaannya untuk penelusuran informasi di perpustakaan. Dikandung maksud, bahwa program-programnya tidak sepotong-sepotong dan dapat dilengkapai dengan keterangan-keterangan tambahan lainnya dari data bibliografi yang didaftarkan dan dilengkapi data ringkasan atau abstrak dari buku atau medianya. Bentuk tampilan catalog computer dapatberbeda antara satu dengan yang lainnya, karena sangat bergantung kepada programmer-nya atau orang yang merancang.

Catalog terkomputerisasi yang telah dilayankan secara online ke public biasanya menggunakan system OPAC (Online Public Access Catalog) yang fungsinya sama dengan catalog konvensional dalam bentuk kartu sebagai alat bantu menelusur informasi berupa buku atau artikel di perpustakaan. OPAC dapat digunakan menelusur informasi hanya dengan menyebut atau menulis salah satu dari : subjek, pengarang, judul, atau informasi bibliografis lainnya yang dirancang untuk bahan pencarian.

  1. Bibliografi, juga bertugas mempermudah pelaksanaan program-program perpustakaan secara keseluruhan, yaitu mendaftar atau menginventarisir semua jenis terbitan yang ada, baik media cetak maupun media rekam lainnya di dalam maupun diluar perpustakaan. Pada umunya bibliografi disusun berdasarkan abjadnama pengarang atau yang dianggap pengarang, judul,  dan subjek atau dapat juga dengan susunannya dengan cara tertentu. Prinsipnya adalah sistematis dan mudah dibaca orang banyak. Maka jelaslah bahwa bibliografi berfungsi sebagai alat bantu penelusuran sumber informasi.
  2. Indeks, salah satu alat bantu penelusuran informasi yang paling dikenal orang banyak dan dipergunakan di perpustakaan, baik oleh pustakawan atau pun bukan. Bahan-bahan yang diindeks kebanyak merupakan informasi yang tedapat dalam majalah, surat kabar, buku maupun media lainnya, yang jelas termasuk indeks yang menunjuk ke halaman-halaman buku (concordance). Adapun jenis-jenis indeks : a). analitis, b). sintetis, c). informative, dan d) indikatif.

Fungsi dasar indeks adalah analitis untuk menguraikan suatu dokumen atau bidang subjek kedalam bagian-bagian yang lebih kecil melalui kata-kata kunci serta menyusunnya berdasarkan urutan abjad atau cara lain. Kesemua jenis indeks mempunyai tujuan dan cirri yang sama, yaitu bersifat menunjukan (indikatif) tempay disimpannya topic-topik, tajuk-tajuk atau bahkan artikel lengkap yang diindeksnya.

  1. Abstrak, merupakan pengembangan lanjut dari indeks, yang berfungsi sama untuk merekam dan menunjukan isi sebuah majalah, surat kabar atau sumber informasi lainnya. Yang menjadi perbedaan adalah batasannya. Kalau indeks berupa daftar susunan kata-kata yang disusun berdasarkan urutan abjad, sedangkan abstrak berisi pemadatan atau ringkasan isi sebuah tulisan atau artikel yang diindeks. Abstrak cenderung menangani bidang subjek terbatas, tetapi penyusunannya jarang yang mengkhususkan diri pada pengarang tunggal atau satu abstrak biasanya tidak hanya berisi ringkasan artikel seorang pengarang saja, melainkan lebih banyak beragam. Subjeknya pun demikian, tidak terbatas pada satu bidang saja.

Pada umumnya, abstrak disusun berdasarkan subjek atau dapat juga berdasarkan urutan nomor masuk artikel atau berdasarkan bahan-bahan penerbitannya. Karena sifatnya yang cenderung mengkhusus pada bidang subjek terbatas, maka abstrak lebih lengkap cakupannya dan lebih mendalam jangkaunnya. Abstrak sangat membantu para peminat bidang khusus dalam melaksanakan penelitian-penelitian bidang subjek terbatas.

Dilihat dari kelengkapan isi, maka abstrak telah memenuhi syarat untuk pemenuhan informasi bagi pembaca secara langsung, namun sebagai fungsi indeks, pembaca juga diberikan kesempatan untuk membaca tulisan aslinya karena disama biasanya dilengkapi dengan tempat tulisan aslinya.

  1. Jaringan informasi, merupakan konsep kehidupan perpustakaan masa depan. Perpustakaan tidak lagi mencukupi dirinya sendiri dengan sediaan koleksi yang sanggup memnuhi segala kebutuhan umat manusia.jutaan informasi yang setiap harinya lahir tak terbendung hingga mencapai jumlah yang luar biasa banyaknya sebagai akibat pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hal pelayanan kepada masyarakat, perpustakaan harus mampu meningkatkan kemampuannya sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan kebutuhan. Disamping itu, jumlah sumber informasi yang membludak dan bervariasi, masyarakat pengguna pun sangat beragam kebutuhannya, beragam dan berkembang sejalan dengan meningkatkatnya jumlah populai dalam kelahiran yang memerlukan informasi, yaitu kaum terpelajar dan golongan masyarakat banyak yang melek baca. Sementara tumbuh kembang penyelenggaraan perpustakaan mengalami berbagai kendala antara lain : pengadaan sumber, penyediaan ruangan, biaya operasional, manajemen, dan ketenagaan.

Dari berbagai masalah yang dihadapi perpustakaan, utamanya dalam pemenuhan berbagai kalangan masyarakat pengguna sesuai dengan kepentingannya adalah melalui upaya pelaksanaan pelayanan melalui system jaringan informasi dan berbagi sumber diantara perpustakaan satu dengan yang lainnya. Perpustakaan yang satu dapat meminjamkan sebagian sebagian koleksinya kepada perpustakaan lain apabila pada suatu waktu ada pengguna yang membutuhkan informasi dan sumber-sumber informasi, namun tidak tersedia disatu perpustakaan. Caranya dengan bentuk kerjasama dalam satu ikatan antara beberapa perpustakaan. Keuntungan kerjasama antar perpustakaan adalah : a). menambah sumber-sumber informasi yang tersedia, b) memperluar aksebilitas sumber-sumber informasi, c). meminimalisir pembiayaan, dan d). meningkatkan penyebaran sumber-sumber informasi (Pawit M. Yusup & Priyo Subekti, 2010). Pusat jaringan informasi di Indonesia sudah ada sejak tahun 1971 ketika diselenggarakan Workshop Sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi di Bandung pada tanggal 22-24 Juli 1971.

 

  1. D.    Strategi Penelusuran Informasi

Strategi yang dilakukan oleh seorang pustakawan sangat bergantung kepada sifat pertanyaan untuk dilakukan telaahan dalam bentuk lima langkah kerja utama penelusuran, yaitu : 1. Klarifikasi pertanyaan atau permintaan informasi, 2. Pengkajian atas ruang lingkup penelusuran, 3. Melakukan penelusuran utama, 4. Melaksanakan penelusuran tambahan, 5. Menyiapkan hasil penelusuran dalam format yang sesuai (Blasius Sudarsono, 2006 : 130).

  1. Klarifikasi pertanyaan atau permintaan informasi,  perlu dilaksanakan agar hasil penelusuran informasi tepat sesuai dengan kebutuhan pengguna dan prose temu kembali informasi di perpustakaan berjalan lancer, efektif dan efisien. Dalam melaksanakan klarifikasi  beberapa pertanyaan dapat dipergunakan, antara lain ; untuk tujuan apa informasi itu diperlukan? Adakah pengecualian pada jenis literature tertentu? Format jawaban yang seperti apa yang lebih diinginkan? Dan secepat apa jawaban diharapkan telah tersedia?

Bagi penelusur informasi yang sudah berpengalaman, keempat pertanyaan ini telah menyatu dalam konsep pencarian informasi sejak ia melangkah ke perpustakaan. Namun bagi penelusur pemula masih sangat perlu melakukan wawancara awal dengan pengguna terlebih dahulu.

  1. Pengkajian atas ruang lingkup penelusuran, rahasia sukses dalan penelusuran informasi di perpustakaan adalah salah satunya terkait sangat erat dengan kejelian, kemampuan dan ketrampilan dalam menggunakan alat-alat bantu penelusuran yang ada dan dimiliki oleh suatu perpustakaan, seperti indeks dan system temu kembali yang mapan dan maju serta kajian terhadap ruang lingkup penelusuran informasi yang dibutuhkan.
  2. Melakukan penelusuran utama, dapat dibedakan menurut waktu yang diperlukan, yaitu ; a). Penelusuran singkat, b). penelusuran rinci dan c). penelusuran menyeluruh. Sifat dan ruang lingkup penelusuran utama sangat dipengaruhi oleh subjek dan pengetahuan penelusur, alat bantu penelusuran yang dimiliki, jumlah literature yang berkaitan dengan pertanyaa, jenis dan bentuk jawaban yang diperlukan, serta factor-faktor lainnya.
  3. Melakukan penelusuran tambahan, bilamana penelusuran utama belum dapat memuaskan pengguna atau penelusur sebagaimana yang diinginkan dari sisi ketepatan jawaban dengan pertanyaan, maka perlu melakukan perbandingan dengan alat bantu lain dan menanyakan atau berkonsultasi dengan pihak yang memiliki keahlian khusus dalam bidang yang dimaksudkan oleh pengguna.
  4. Menyiapkan hasil penelusuran dalam format yang sesuai, dalam menyampaikan informasi hasil penelusuran, sangat diharapkan sesuai dengan kaidah-kaidah baku secara objektif sesuai dengan format standar yang mudah dimengerti dan maksud yang diinginkan terpenuhi secara lengkap.

 

  1. E.     Penutup.

Penelusuran informasi pada jaman global saat ini merupakan tantangan tersendiri dan berdampak pula pada kehidupan perpustakaan. Sumber-sumber informasi begitu membludak melampaui literature tercetak, sehingga diperlukan tehnik dan kemampuan penelusuran yang jeli, cermat dan akurat serta tepat sasaran, maka kiranya perlu menambah tips penelusuran informasi sebagai berikut : a) kerjakan dari yang bersifat umum menuju yang bersifat khsusus, b) catat yang ditemukan dan dimana lokasinya, c) terjemahkan apa yang diperoleh kedalam bahasa subjek untuk indeks, abstrak atau catalog yang digunakan.

Peran pustakawan baik sebagai mediator maupun navigator pada penelusuran informasi masih sangat relevan keberadaannya, dengan catatan harus selalu meningkatkan kapasitas, kapabilitas serta profesionalismenya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan sumber-sumber informasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>